Perang di Tengah Krisis Global

Posted on

Perang antara Amerika Serikat, Israel (AS – Israel) versus Iran dalam seminggu terakhir semakin memperkeruh situasi global di tengah krisis politik dan ekonomi yang belum pulih. Perang Rusia dengan Ukraina sampai saat ini belum menunjukkan tanda – tanda akan berhenti, memanaskan situasi politik di laut China Selatan serta beberapa krisis lainnya. Dunia seakan dikepung oleh berbagai permasalahan yang diciptakan sendiri oleh negara – negara besar. Secara kasat mata negara – negara besar terkesan sangat serakah untuk menguasai sumber – sumber energi yang ada di negara – negara lain yang ditandai dengan melakuka intervensi politik dan militer negara – negara amerika lain seperti Venezuela dimana presidennya ditangkap dan diadili di Amerika Serikat. Hal yang paling mengejutkan adalah serangan negara AS – Isreel yang membabi buta ke Iran yang berujung meninggalnya pemimpin spiritual Iran Ali Hosseini Khamenei.

Dalam perspektif kedaulatan sebuah negara bahwa penyerangan terhadap negara lain adalah melanggar kedaulatan sebuah negara. Lebih tegasnya hal tersebut juga melanggar piagam PBB tepatnya adanya pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB yang berbunyi “semua anggota dalam hubungan internasionalnya menghindarkan diri mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik setiap negara, atau dengan cara apapun yang bertentangan dengan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa”. Dengan dalih apapun penyerangan terhadap Iran itu melanggar kedaulatan dan merusak tatanan kemanusiaan. Namun yang terjadi adalah negara Amerika Serikat dan Israel tidak peduli dengan pelanggaran tersebut dan terus memaksakan untuk melakukan penyerangan terhadap Iran. Sebagai negara yang berdaulat, Iran akhirnya tidak bisa tinggal diam dan bereaksi untuk membalas serangan terhadap beberapa pangkalan militer Amerika yang ada di beberapa negara Timur Tengah dan juga menyerang Israel sehingga perang tidak terhindarkan yang menyulut ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah. Kita semua tidak tahu kapan perang tersebut akan berakhir.

Hal yang justru sangat mengherankan adalah peran dari PBB melalui Dewan Keamanannya yang seolah – olah tidak berdaya terhadap penyerangan AS – Israel  terhadap Iran. Demikian juga dengan negara – negara lainnya yang juga tidak berdaya dan seolah – olah melakukan pembiaran terhadap perang tersebut. PBB selama ini selalu tidak berdaya di bawah hegemoni Amerika Serikat khususnya. Sampai saat ini belum ada aksi yang nyata dari organisasi PBB dan beberapa negara di dunia untuk menghentikan perang tersebut. PBB dan negara – negara lain hanya melakukan kecaman terhadap perang tersebut dan belum ada aksi nyata untuk “menghukum” Amerika Serikat dan Israel.

Instabilitas yang Berkelanjutan

Kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang dinilai “seksi” oleh negara – negara maju yang berwatak “penjajah”. Terdapat dua alasan utama mengapa Kawasan Timur Tengah dianggap sebagai kawasan yang dinilai “seksi” tersebut. Alasan utamanya adalah bahwa Kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang memiliki daya tarik ekonomi yang sangat tinggi, karena di kawasan ini memiliki “harta karun” energi minyak dan gas bumi yang melimpah sehingga negara – negara maju tergiur untuk menguasai sumber – sumber minyak dan gas bumi tersebut dengan cara apapun antara lain melakukan negosiasi politik, kerja sama ekonomi, atau dengan cara “kekerasan” melalui agresi yang saat ini dipraktekkan oleh Amerika Serikat ke Iran. Tidaklah mengherankan kalau negara Amerika Serikat menempatkan pangkalan militernya di negara – negara Timur Tengah tersebut sebagai langkah penguasaannya tersebut. Artinya secara “de facto” negara – negara Timur Tengah memang sudah dikuasai oleh Amerika Serikat dan Sekutunya.

Alasan selanjutnya adalah secara politik dan sosial budaya, negara – negara di Timur Tengah selalu dianggap sebagai “ancaman” bagi eksistensi negara barat terutama bagi “negara skoci” Amerika Serikat yaitu Israel. Segala cara akan dilakukan oleh negara – negara barat untuk memecah – belah dan menaklukkan negara – negara di Kawasan Timur Tengah. Negara Barat tidak ingin negara – negara Timur Tengah bersatu dalam bendera islam sebagai agama dan ideologi yang mempersatukan negara – negara di Timur Tengah. Menilik Sejarah masa lalu di jaman kejayaan Islam mulai jaman kerasulan, para khalifah yang melanjutkan kepemimpinan negara – negara islam pada waktu itu, dimana peradaban Islam dan ilmu pengetahuannya sangat maju dan juga mulai menjalar ke beberapa wilayah di Eropah.

Dua alasan utama itulah yang menyebabkan Amerika Serikat dan Israel selalu saja mencari cara untuk membuat Kawasan Timur Tengah menjadi tidak aman. Keberadaan negara Israel di Kawasan Timur Tengah diibaratkan sebagai “duri dalam daging” yang selalu mengganggu keamanan negara – negara di Kawasan Timur Tengah.

Beberapa alasan yang selalu dinarasikan guna melegalkan agresi negara maju khususnya Amerika Serikat ke negara Timur Tengah yang “membangkang” antara lain bahwa negara Arab tersebut tidak demokratis, otoriter, terdapat kelompok teroris, melanggar HAM dan seribu alasan yang dibuat guna melegalkan agresi militernya. Secara sosial budaya negara – negara barat melakukan propaganda untuk membuat kelompok – kelompok sempalan aliran agama dengan harapan antar negara Arab berkonflik atas nama perbedaan aliran agama. Dalam kurun waktu jangka panjang Sepertinya negara – negara di Kawasan Timur Tengah akan selalu dibuat tidak nyaman mungkin sampai kiamat tiba.

Memacu Krisis Global

Secara kasat mata perang antara AS – Israel versus Iran akan memicu krisis global di bidang politik dan keamanan yang berkepanjangan. Hal yang justru sangat ditakutkan oleh semua negara di belahan dunia adalah perang tersebut akan semakin meluas dan melibatkan beberapa negara lain, seperti beberapa negara di Timur Tengah lainnya dimana negaranya dijadikan tempat pangkalan militer dari Amerika Serikat seperti Bahrain, Qatar, Kuwait hingga Irak, Uni Emirat Arab, Arab Saudi. Beberapa negara tersebut bisa saja terprovokasi atas serangan Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat di negaranya. Beberapa negara lainnya yang juga dikhawatirkan juga terprovokasi oleh Amerika Serikat adalah negara – negara besar yang ada di Eropah seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dengan dalih sebagai negara sekutu dari Amerika Serikat. Pada sisi yang lain, Iran juga memiliki “teman baik” dengan negara – negara besar seperti Rusia dan China yang memiliki kerja sama ekonomi dan militer serta beberapa negara yang berempati dengan Iran seperti Turki dan beberapa negara lainnya. Apabila beberapa negara tersebut berhasil terprovokasi dengan ajakan langsung dari Amerika Serikat serta situasi yang tidak menyenangkan tersebut, maka perang dunia ketiga tidak terelakkan yang pada akhirnya dunia di ambang kehancuran. Dalam perspektif teologis mungkin inilah yang disebut dengan istilah “kiamat sudah dekat” atau yang dikenal pula dengan istilah “The End of The Earth”, meskipun dalam skala kecil.

Secara ekonomi dampaknya sudah mulai terasa dimana aktivitas haji dan umrah sudah mulai terganggu. Perang sudah menciptakan ribuan atau bahkan jutaan umat muslim yang tertahan di Arab Saudi. Beberapa negara muslim di dunia lainnya untuk sementara memberhentikan pemberangkatan umrah ke Arab Saudi. Dalam kondisi yang sama menunjukkan aktivitas perdagangan global menjadi terganggu terutama perdagangan yang melibatkan negara – negara di Kawasan Timur Tengah. Hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap aktivitas hiburan, perhotelan, pariwisata bagi negara – negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Intinya adalah aktivitas perekonomian menjadi sangat terganggu akibat perang tersebut.

Hal lainnya yang juga langsung terkena dampaknya adalah kurs nilai mata uang yang tidak stabil yang juga berpengaruh secara langsung terhadap perdagangan internasional terutama yang berhubungan dengan impor energi minyak, gas bumi, makanan dan barang – barang impor dan hal lainnya. Harga minyak diperkirakan akan melambung, demikian juga makanan dan barang – barang impor lain.

Beberapa bulan yang akan datang terdapat aktivitas haji dengan j jutaan orang yang akan melaksanakan ibadah haji. Apabila kondisi perang ini tidak selesai, maka akan sangat mengganggu aktivitas ibadah haji di dua tanah suci yaitu Kota Mekkah dan Kota Madinah di Arab Saudi. Tidak terbayangkan kalau aktivitas haji menjadi terhambat, baik yang mau berangkat haji maupun yang sudah berada di dua kota suci tersebut. Kondisi peperangan akan mengakibatkan situasi yang sangat mencekam bagi yang sedang melaksanakan ibadah haji. Apabila situasi perang belum juga berakhir menjelang pelaksanaan ibadah haji tersebut, maka akan menimbulkan amarah dan kecaman dari ummat muslim sedunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace bentukan Amerika Serikat menjadikan Indonesia sangat dilematis. Indonesia sepertinya secara tidak langsung terlihat seperti “di bawah tekanan” Amerika Serikat yang sebelumnya Presiden Trump mengancam melalui kebijakan tarif impor Trump terkait perdagangan Indonesia ke Amerika Serikat, yang pada akhirnya juga dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat. Di sisi lain Pemerintah Indonesia secara “idealis” ingin menerapkan politik bebas aktif dengan berkeinginan menjadi “juru damai” perang AS – Israel versus Iran.

Publik selama ini menilai bahwa keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace tidak memiliki kebermanfaatan yang signifikan, apalagi pihak Amerika Serikat sendiri telah melanggar nilai – nilai perdamaian dengan melakukan agresi terhadap Iran. Peran Indonesia yang akan menjadi “juru damai”- pun dengan berencana bernegosiasi ke negara Iran juga dinilai tidak akan memperoleh hasil yang optimal bahkan hanya akan menjadi sia – sia. Hal yang mungkin akan lebih didengar apabila Indonesia mampu menggalang suara untuk menghentikan perang melalui OKI serta mampu bersama – sama dengan negara – negara yang memiliki spirit manolak perang untuk mengecam peperangan AS – Israel versus Iran tersebut.

Di dalam negeri, Pemerintahan Prabowo harus mampu menjaga stabilitas harga agar tetap stabil terutama terkait dengan harga BBM yang potensial akan melonjak, kelangkaan BBM, melambungnya harga bahan pokok yang disebabkan dengan adanya perang AS – Israel versus Iran tersebut. Hal yang juga tidak bisa dilupakan adalah penyelesaian bencana di Sumatera yang sampai saat ini belum selesai serta berbagai bencana susulan yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia akhir – akhir ini. Artinya publik sangat menginginkan pemerintah Indonesia lebih fokus untuk menangani setumpuk permasalahan yang terjadi di dalam negeri dibandingkan memfokuskan kepada politik luar negeri yang tingkat efektivitasnya rendah.

Akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa perang AS – Israel versus Iran mengakibatkan dampak global yang sangat sistemik terutama dibidang ekonomi dan keamanan geopolitik dunia. Oleh karena itu semua negara harus satu suara untuk melawan perang tersebut dengan melakukan tindakan yang terukur guna meredakan ego dari pihak – pihak yang berperang tersebut.

Oleh: Agus Sjafari

Penulis Adalah Dosen FISIP Untirta; Analis Masalah Sosial & Pemerintahan