Perang antara AS – Israel versus Iran belum menunjukkan tanda – tanda akan berakhir, bahkan sepertinya akan mengarah kepada perang darat yang dimungkinkan akan memakan waktu yang lebih lama. Seperti yang diprediksi beberapa pakar bahwa perang ini telah memakan korban baik korban ribuan nyawa, wilayah yang saling menghancurkan, dan yang lebih mengerikan lagi adalah berdampak secara sistemik dan global, terutama terhadap krisis energi dan perekonomian dunia dikarenakan wilayah Timur Tengah merupakan “jantungnya” minyak dunia. Perang AS – Israel vs Iran tidak seperti perang Israel berhadapan dengan kelompok Hamas di Palestina dan kelompok Hisbullah di Libanon yang disebut dengan perang simetris, namun dalam perang ini di kategorikan dengan perang a-simetris, dimana Iran akan memainkan aspek – aspek lainnya salah satunya menutup Selat Hormuz yang dikenal sebagai jantung perdagangan minyak dunia sekitar 20 sampai dengan 40%.
Dampaknya sudah mulai terasa terutama bagi negara – negara di sekitar wilayah tersebut yang hanya menggantungkan diri dengan kelancaran perdagangan minyak di wilayah tersebut seperti negara India, Pakistan, Bangladesh dan negara lainnya. Negara – negara lainnyapun seperti AS sendiri, negara – negara eropah, dan negara di Kawasan Asia lainnya juga terkena dampaknya dengan semakin meroketnya harga BBM di dalam negerinya.
Konflik di Timur Tengah dipastikan berdampak langsung pada pasar energi dunia. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia yang merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia. Gangguan distribusi, khususnya di jalur strategis seperti Selat Hormuz, dapat mendorong harga minyak melonjak tajam. Lonjakan harga minyak biasanya terjadi karena pasar global merespons risiko terganggunya pasokan energi dari kawasan tersebut. Sebagai akibatnya di beberapa negara di dunia sudah mulai membuat kebijakan pembatasan penggunaan BBM sebagai sumber energi di negaranya.
Bagaimana dengan Indonesia?. Pemerintah Indonesia sepertinya belum membuat kebijakan yang ekstrim guna merespon kondisi krisis energi yang pasti akan menerpa negara kita. Kelangkaan BBM akan memicu naiknya harga BBM dalam negeri. Sepertinya pemerintah Indonesia masih “mengulur waktu” untuk membuat kebijakan pembatasan pemakaian BBM dan menaikkan harga BBM dalam negeri dengan menghitung kekuatan APBN untuk terus mensubsidi harga BBM, meskipun harga minyak sudah $103,76 per barel, naik 3,64% mengacu kepada data WTI Crude. Isyu akan adanya kenaikan harga BBM pada tanggal 1 April kemarin belum terjadi meskipun potensi akan adanya kenaikan harga BBM menguat. Pemerintah sepertinya masih mempertimbangkan kekuatan APBN terutama bagi BBM yang bersubsidi.
BBM merupakan sumber energi utama di Indonesia khususnya dalam kegiatan industri dan sangat menunjang mobilitas masyarakat dalam melakukan kegiatan sosial ekonomi. Ketika harga BBM naik maka akan sangat berpengaruh secara sistemik terhadap beberapa aspek lainnya yang sangat vital.
Bagi kalangan Industri, adanya kenaikan harga BBM akan berpengaruh terhadap biaya produksi yang pada akhirnya akan memicu adanya kenaikan harga barang produksi. Hal ini juga ditambah dengan biaya transportasi yang juga akan naik. Kondisi ini akan memicu kenaikan harga – harga barang dan juga inflasi. Bagi Industri tidak ada pilihan lain kecuali melakukan efisiensi yang sangat ketat dan rasionalisasi yang mungkin saja akan berujung kepada pengurangan tenaga kerja. Apabila kebijakan pengurangan tenaga kerja dianggap sebagai pilihan yang rasional, maka hal tersebut akan berdampak terhadap bertambahnya jumlah pengangguran.
Kantor – kantor pemerintah dan swasta sudah bersiap – siap juga untuk melakukan penghematan penggunaan energi dengan membuat kebijakan WFH. Pemerintah dalam hal ini sudah ingin menerapkan kebijakan WHF satu hari dalam seminggu yang jatuh pada hari jumat, meskipun hal tersebut akan terus dievaluasi terkait dampaknya terhadap kinerja dan produktivitas kerja pegawai dan kelembagaannya. Bagi kalangan “emak – emak” bahwa kenaikan BBM akan berdampak terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok keluarga dikarenakan naiknya biaya transportasi dan biaya produksi. Dalam masalah ini, lagi – lagi masyarakat akan terkena imbasnya yang akan menanggung beban ekonomi yang samakin sulit.
Krisis Energi, What Next?
Apakah gambaran di atas akan mengarah kepada situasi yang dikategorikan sebagai krisis energi?. Jawabannya sudah pasti bahwa kita akan menghadapi krisis energi. Meskipun BBM bukan satu – satunya sumber energi, namun dunia saat ini masih sangat bergantung kepada BBM sebagai penopang energi utama. Dengan kondisi riil saat ini, idealnya pemerintah sudah mulai “memutar otak” untuk mengidentifikasi terkait dengan dua hal yaitu pertama, memetakan dampak dan solusi jangka pendek, dan Kedua, memetakan dampak dan solusi jangka Panjang. Untuk Jangka pendeknya terkait bagaimana pemerintah merespon kebijakan pembatasan penggunaan energi kenaikan harga BBM, mengatasi kenaikan inflasi, penerapan WFH, penguatan nilai tukar rupiah dan kebijakan jangka pendek lainnya.
Dalam upaya mengatasi potensi krisis energi ini pemerintah Indonesia belum terbiasa mengantisipasi dampak dan mencari solusi jangka panjang. Indonesia perlu berkaca kepada negara – negara lain yang sudah terbiasa untuk mengantisipasi dampak dan solusi jangka panjang terkait dengan segala persoalan negaranya. Salah satu pelajaran penting dengan adanya perang AS-Israel vs Iran adalah daya survival negara Iran serta pengembangan SDM dan Iptek di negara tersebut. Negara Iran yang sudah diembargo oleh AS dan sekutunya mulai tahun 1979 ternyata menunjukkan daya survival yang mengejutkan dunia dengan pengembangan SDM dan Ipteknya khususnya dalam bidang tehnologi militer dan pengembangan tehnologi lainnya. Dunia seakan terperangah dengan gigihnya perlawanan militer Iran melawan negara adidaya seperti AS yang berkolaborasi dengan Israel. Dalam situasi negaranya yang diembargo kurang lebih 50 Tahun, negara Iran tetap eksis bahkan diam – diam mengembangkan teknologi persenjataan bahkan juga mengembangkan energi nuklir yang hebat saat ini.
Krisis energi akibat perang AS-Israel vs Israel seharusnya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mulai belajar memetakan dampak dan mencari solusi jangka panjang terkeit dengan pengembangan energi. Kita tidak boleh seterusnya hanya bergantung kepada impor BBM dari negara lain. Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu dikenal sebagai negara pengekspor minyak, namun dengan adanya “salah kelola” energi minyak yang kemudian menjadikan kita sebagai negara pengimpor minyak. Ketika minyak dunia bermasalah, maka pemerintah dan masyarakat kelimpungan untuk memenuhi kebutuhannya.
Untuk jangka Panjang Indonesia memiliki potensi sumber energi potensial selain BBM, antara lain: Energi Surya: Indonesia memiliki sinar matahari yang kuat sepanjang tahun, potensi energi surya mencapai 207 GW.Energi Geotermal: Indonesia memiliki 40% potensi geotermal dunia, sekitar 28.000 MW.Energi Air: potensi energi air mencapai 75 GW, dengan PLTA terbesar di Asia Tenggara. Energi Angin: potensi energi angin mencapai 60 GW, terutama di pantai selatan Jawa dan Sulawesi. Energi Biomassa: potensi biomassa mencapai 32.654 MW, dari limbah pertanian dan kehutanan.Energi Laut: potensi energi laut mencapai 60 GW, dari gelombang laut dan pasang surut. Potensi energi ini dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada BBM dan meningkatkan keamanan energi nasional.
Potensi alam yang melimpah ini tinggal bergantung kepada pemerintah untuk mengembangkannya. Lembaga – lembaga riset, perguruan tinggi perlu diberikan tugas untuk mengembangkan ini guna mengatasi krisis energi ini. Catatan khususnya adalah hasil – hasil riset terkait dengan pengembangan energi ini pada akhirnya harus bersifat massif dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi sehari – hari, sehingga kita tidak harus bergantung kepada negara lain. Hal lain yang juga menjadi catatan khususnya adalah tata Kelola energi yang harus ditangani secara professional dan transparan. Potret buruk pengelolaan pertamina yang tidak professional dan selalu menjadi “ladang bancakan” para elit politik dan pengusaha yang korup sehingga kita sangat sulit untuk menjadi negara yang berdikari dalam bidang energi.
- Sebagai akhir dari tulisan ini bahwa kita harus memiliki solusi strategis dalam memetakan dampak jangka pendek krisis energi global, dan sudah saatnya untuk membuat kebijakan pemetaan potensi energi dan pengembangan Iptek di bidang energi sesuai dengan potensi sumber daya alam kita yang sangat kaya sehingga kita dapat menjadi negara yang berdikari di bidang energi. Aamiin YRA.
Oleh : Agus Sjafari

Penulis adalah Dosen FISIP Untirta Analis Masalah Sosial dan Pemerintahan
