Artikel

Posted on

Puasa dan Manusia yang “Rahmatan lil Alamiin”

Oleh: Agus Sjafari /Dosen FISIP Untirta; Analis Masalah Sosial & Pemerintahan             

 

Marhaban ya Ramadhan, seluruh ummat islam sedunia bersuka cita menyambut datangnya bulan agung tersebut dimana di dalamnya penuh dengan berkah, rahmat dan ampunan. Kementerian Agama RI sudah mengumumkan bahwa penetapan 1 Ramadhan dimulai dari tanggal 19 Pebruari 2026, sedangkan Organisasi Muhammadiyah  menetapkan satu hari sebelumnya yaitu pada tanggal 18 Pebruari 2026.

Selama sebelas bulan kita sudah disibukkan dengan urusan duniawiyah, oleh karena itu dalam sebulan ke depan kita harus menyibukkan diri dengan urusan ibadah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama bulan ramadhan ini bukannya kita dilarang untuk mengejar urusan duniawi, namun melakukan ibadah di bulan ramadhan akan diganjar dengan pahala yang berlipat – lipat. Oleh karena itu bulan ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk meningkatkan iman dan ketakwaan, melakukan amal sholeh, dan memperbaiki diri. Banyak umat islam yang memanfaatkan bulan ramadhan untuk berpuasa wajib, shalat qiyamul lail (tarawih dan sholat lainnya), dan membaca Al – Quran. Bulan ramadhan juga merupakan waktu yang penuh dengan kebersamaan dan silaturrahmi dengan keluarga, para kolega dan pihak lainnya.

Selama bulan ramadhan terdapat dua hal yang terbangun yaitu kesholehan individual dan kesholehan sosial. Kesholehan individual merujuk kepada tingkat kesholehan atau kebaikan yang dilakukan oleh seseorang secara pribadi, baik dalam hubungannya langsung dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Beberapa aktivitas yang mencerminkan kesholehan individual antara lain: melakukan ibadah dengan khusyuk dan Ikhlas, menjaga ahlak dan moral yang baik, menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama, serta beberapa aktivitas lainnya yang intinya adalah mampu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Sedangkan makna dari kesholehan sosial merujuk kepada kesholehan atau kebaikan yang dilakukan oleh seseorang dalam konteks sosial, yaitu dalam memperbaiki hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan sekitar, antara lain : berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang positif, membantu orang lain yang sangat membutuhkan, menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam masyarakat, berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan beberapa kegiatan sosial lainnya yang sangat positif.

Kesadaran Kolektif

Pemandangan yang sangat indah ketika ramadhan adalah masjid yang penuh sesak, umat islam sangat rajin memberikan sedekah ke tempat – tempat yayasan anak yatim dan fakir miskin, serta umat muslim juga rajin untuk berbagi rezeki apakah ketika menjelang berbuka puasa bahkan dalam melakukan aktivitas sahur sekalipun. Banyak sekolah, perguruan tinggi, bahkan perkantoran yang juga melakukan kegiatan pesantren kilat bagi siswa, mahasiswa, dan para pegawainya. Secara substansial bahwa dalam kegiatan – kegiatan tersebut terkandung aktivitas untuk meningkatkan kesholehan individual sekaligus juga meningkatkan kesholehan sosialnya. Seandainya pemandangan yang indah tersebut tidak saja dilakukan hanya pada waktu bulan ramadhan saja, melainnya juga rutin dilakukan pada bulan – bulan lainnya maka akan sangat berkontribusi terhadap pembangunan karakter yang sangat kuat sebagai sebuah bangsa, juga turut meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, pada akhirnya negara kita menjadi negara yang maju dan modern.

Momen bulan ramadhan dipandang sebagai momen yang sangat tepat untuk melakukan segala bentuk kebaikan serta membersihkan diri dari perilaku yang negatif. Idealnya bulan ramadhan dapat mewarnai sebelas bulan lainnya, sehingga berbagai “seremonial kebaikan” tersebut berlanjut menjadi sebuah kebiasaan atau budaya masyarakat yang kuat dan unggul. Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku negatif relatif menurun ketika bulan ramadhan. Keyakinan bahwa “syaitan dibelenggu” selama bulan ramadhan masih dipegang teguh, maknanya adalah bahwa selama menjalankan ibadah puasa kita mampu melawan hawa nafsu negatif. Dampaknya adalah iklim politik kita yang lebih teduh ketika ramadhan, perilaku ekonomi kerakyatan yang lebih “Islami” tumbuh subur di bulan ramadhan, perilaku korupsi menurun, kejahatan dan kriminalisasi juga menurun, pada sisi lain menunjukkan tingkat kepedulian sosial kepada kaum fakir miskin dan masyarakat terlantar semakin tinggi selama bulan ramadhan.

Tiga Kesadaran

Secara lebih spesifik bulan ramadhan pada dasarnya melahirkan tiga kesadaran baik manusia sebagai mahluk individu maupun manusia sebagai mahluk sosial, antara lain kesadaran alamiah, kesadaran sosial, serta kesadaran ekonomi dan ekologi

Pertama, Kesadaran alamiah berhubungan dengan kesadaran manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan maka manusia diwajibkan untuk selalu menghamba ke Allah SWT. Sebagai hamba Allah SWT, manusia akan selalu meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada penciptaNya. Praktek yang harus dilakukan adalah bagaimana manusia lebih meningkatkan ibadahnya untuk mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya dan tidak melakukan apa yang dilarang oleh agamanya. Bulan ramadhan pada dasarnya mampu mendorong motivasi manusia untuk meningkatkan ibadahnya karena ganjaran pahala yang sangat berlipat – lipat yang akan diperoleh seorang muslim. Terdapat hubungan transendental yang sangat kuat antara manusia dan Allah SWT dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya.

Kedua, Kesadaran sosial berhubungan dengan eksistensi manusia sebagai mahluk sosial yang di dalamnya terdapat norma dan hukum sosial yang berlaku. Sebagai mahluk sosial terdapat faktor pendorong dalam dirinya untuk memiliki kepedulian yang tinggi membantu sesama muslim dan ummat beragama lainnya yang dalam kesusahan dan kemiskinan. Perilaku kepedulian sosial tersebut pada dasarnya juga dibalut dengan konsep “ibadah sosial” yang pada akhirnya diyakini akan diganjar dengan pahala yang berlimpah ketika melakukan hal tersebut. Kesadaran sosial untuk saling berbagi tersebut pada dasarnya tidak mengikat, hanya orang – orang tertentu yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi yang akan melakukan “ibadah sosial” tersebut. Ibadah puasa pada dasarnya akan mempertinggi tingkat kesadaran sosial masyarakat untuk saling membantu dan mengasihi.

Ketiga, Kesadaran ekonomi dan ekologi berhubungan dengan bagaimana membangun sistem ekonomi yang berkeadilan tanpa merusak alam. Kegiatan ekonomi pada dasarnya berhubungan dengan aktivitas eksploitasi sumber daya, baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Eksploitasi sumber daya manusia berkaitan dengan terciptanya diskriminasi dan jurang kesenjangan yang sangat tinggi. Sedangkan eksploitasi sumber daya alam mengakibatkan adanya kerusakan alam yang berdampak terhadap bencana alam yang juga akan merugikan manusia itu sendiri. Ibadah puasa pada dasarnya mengajarkan kita untuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat yaitu bagaimana manusia diberikan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang berlandaskan kepada azas keadilan. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam konsep islam adalah bagaimana perekonomian itu tidak dibangun dengan sistem “win – loose” (menang kalah) melainkan harus dibangun dengan sistem “win – win” (menang – menang). Perekonomian akan tumbuh dengan pesat apabila semua masyarakat tumbuh secara ekonomi. Memperkecil kesenjangan dan disparitas antara si kaya dan si miskin itu akan semakin meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat yang semakin cepat. Ibadah puasa pada akhirnya juga mengajarkan agar manusia tidak terlalu serakah kepada alam. Esensi puasa pada dasarnya menahan diri untuk melakukan tindakan pengrusakan terhadap alam.

Perpaduan dari tiga kesadaran tersebut menjadikan dalam diri manusia akan lebih mencerminkan gambaran “manusia seutuhnya” yang di dalamnya ada kesadaran sebagai mahluk Tuhan, mahluk sosial, serta sebagai mahluk ekonomi berkeadilan. Ketiga kesadaran tersebut pada akhirnya akan menciptkan manusia yang rahmatan lil alamin (memberi rahmat bagi segenap alam). Aamiin YRA.